Jumat, Desember 18, 2009

Kepercayaan kita padanya

Suatu malam, kawanku menginap di rumah beserta puteri kecilnya. Suaminya nggak ikut nginap. Kami terlibat obrolan yang lama, ngelantur kemana-mana, sharing pengalaman, diskusi, ngerumpi tentang segala hal. Banyaknya topik yang kami obrolkan membuat kami tidak ingat waktu. Semalaman suntuk! Ada beberapa topik yang membuat kami sempat berdebat. Salah satunya tentang Berita Jihan dan Primus di media massa.
Kawanku ini sering terlibat masalah dengan suaminya. Biasanya karena kecemburuan dari masing-masing. Mereka berdua sepakat dengan argumen Jihan di berita itu. Sedangkan aku, benar-benar tidak setuju. Bagiku, itu bukan bentuk kepercayaan melainkan terpaksa (atau dipaksa?) percaya. Aku justru berencana bila kelak berumahtangga, tidak ada sedikitpun yang harus ditutup-tutupi kepada suami, pun demikian suamiku kepadaku. Aku dan suamiku, kelak harus mengetahui password setiap akun yang kami berdua miliki. Aku bebas menggunakan akun suamiku tanpa seijinnya, begitupun suamiku. Handphone, PC, Laptop, FB, Email, dsb. Kalaupun ada SMS, Email, PM (Private Message) di FB atau MP atau lainnya, kita tinggal tanyakan saja itu siapa. Menurutku, ini bisa meredam dan menyikapi dengan bijak cemburu kita pada pasangan. Ada SMS atau Email aneh dari perempuan/laki-laki lain itu biasa. Asal kita tidak menanggapinya, Insya Allah tidak akan ada apa-apa. Kalau dirasa sudah terlalu mengganggu, minta baik-baik pada pasangan untuk mem-BLOCK orang tersebut.
Aku sendiri, sekarang ini, sering sekali menerima SMS-SMS aneh dari nomor-nomor tidak dikenal. Isinya terkadang ngelantur kemana-mana. Yang bilang -Sayanku lagi ngapain-lah, -Yank, kok sombong bgt skrg nggak pernah SMS-lah, yang kirim -Kamu sudah punya yang lain ya Cintaku?-lah, and so on... Bikin pusing kan? Siapa pula? Kenal aja nggak. Yang bikin janggal, pake sayang-sayangan, ngaku aku pacarnya dia, padahal aku pernah jadian ma siapa? Kalo bisa pacaran, wah, dari dulu pasti aku udah punya pacar berkali-kali. Gimana mau pacaran kalo telpon-telponan atau keluaran aku nggak leluasa? Lagipula aku udah ditunangin dari kecil. Dari KELAS LIMA ESDE!!!
Fiuuuhhh... Emang capek ngadepin orang-orang usil begituan.

Kembali ke laptop!!!

Aku ingat, kawanku ini dulu pernah bercerita kalo dia pernah menemukan SMS aneh di inbox HP suaminya. Isinya menunjukkan dari perempuan dan seolah-olah sudah berhubungan lama. Ngajak ketemuan lagi, kencan lagi. Yang itu berarti seolah suaminya pernah kencan dengan orang itu. Akhir konflik, ternyata diketahui kalo peneror itu adalah seorang cowok sepupu si suami sendiri dan sudah berkeluarga, alasannya "JUST KIDDING!!" Sungguh bercanda yang berlebihan, sehingga membuat pasangan suami istri bertengkar.
Lah, lalu bagaimana kalau kejadian ini menimpaku juga? Kalau tidak ada keterbukaan sedari awal, bukan tidak mungkin yang bermain nanti hanya ego dan emosi. Saling mencurigai kepada masing-masing. Karena hanya ini yang terjadi pada rumah tangga kawanku ini. Aku seperti berkaca. Dan karenanya, aku kurang suka pria posesif walaupun misalnya dulu pernah kukagumi. No way deh :nono :kiss  :hityou .

Lalu ia menyinggung tunanganku. Bercerita betapa mengagumkan sifat-sifatnya. Yang sopan, dewasa, sabar, dan diyakini akan setia, tidak akan menyakitiku. Ia dan suaminya sekarang begitu memuji-mujinya padahal dulu mereka yang paling memandangnya sebelah mata dan justru aku yang membelanya. Dulu tunanganku tak pernah luput dari olok-olokkan mereka, dan aku benci itu. Walau tak suka padanya aku tak pernah menjelekkannya. Kita tidak pernah tahu apa kita memang lebih baik darinya atau justeru malah sebaliknya. Bisa saja ternyata justru ia jauh lebih baik dari aku dan lainnya

"Bingung ma Thiya, dia cari yang gimana lagi sih? Tunangannya dia itu udah bagus, sepertinya nggak mungkin menyakiti istri."

Sungguh! ini menjadi beban yang sangat untukku. Aku tidak mau kelak disalahkan karena keukeuh pada pilihan sendiri. Entah kenapa aku yakin bahwa pasti ortu dan keluarga besarku akan mencari-cari kesalahan dari pilihanku, dan bila menemukan sekecil apapun kesalahan atau masalah, mereka akan mencibir, "tuh, kayak itu tuh lelaki yang kamu pilih. Kamu sih nggak mau denger kata orang tua." Aku terbebani dengan bukti rumah tanggaku kelak akan baik-baik saja. Lalu bagaimana bila ia justeru merencanakan poligami sejak sekarang? Sungguh, aku coret ia dari hidupku. Bukan aku membenci poligami, tapi karena beban tadi yang harus kusunggi.

Orang tuaku pernah bilang, "Jaman sekarang jangan cari yang tampan. Yang tampan biasanya sesudah punya anak dua ditinggalkan kawin lagi."

Pernah suatu ketika, saat aku masih bertunangan dengan tunanganku yang kedua, aku bilang nggak mau nikah dengan dia, ortu tetap nyuruh nikah aja tapi nanti sesudahnya cerai. Ortu bilang, "wajar kawin cerai. Di Madura mah udah umum dijodohin, nikah dapat seminggu atau sebulan ternyata nggak cocok lalu cerai, nikah lagi, cerai, nikah, cerai lagi, lalu nikah lagi sudah biasa. Bahkan yang berkali-kali kawin itu bagus, berarti laku. Lagipula biar di pihak sana ada ruginya, minimal 10 jutaan lah untuk biaya pernikahan kalian." Duh Ya Rabb, perih sekali rasanya mendengar ini justru dari bibir orang tua sendiri. Andai kupunya 10 juta itu, kutukar dengan kebebasanku!


Kembali ke laptop!

Kawanku ini, sebagai istri dia yang bekerja dari pagi hingga sore hari. Bangun subuh, masak, cuci-cuci, lalu berangkat kerja. Suaminya? Menunggu di rumah sambil jelajah dunia maya. Suatu ketika (menurut cerita kawanku ini) dia mengeluh, "aku capek." Suaminya malah menyahut, "kalo nggak mau kerja ya nggak usah makan!" Oh, miris aku mendengarnya. Aku mengurut dada. Udah perempuannya yang kerja, ngomong gitu pula! Iya kalo yang cowok yang kerja, pantas bicara begitu. Padahal walau aku dulu termasuk aktivis gender di PPs, tapi kelak aku memilih di rumah saja, mendidik benar-benar jundi-jundiku. Biarlah suamiku kerja di luar, aku akan menantinya bersama anak-anak dengan seluruh do-doa semoga ia selamat, lancar rizki, dan selalu dijaga Allah di luar sana.


Ya Allah, ya Karim
Ijinkan hamba-hambaMu ini berikhtiar
Dalam batas-batas syari’at yang telah Engkau gariskan
Dalam hembusan sejuknya iman
Rabbana hablana min azwajina wadzurriyatina qurrata a’yun waj’alna lil muttaqina imama (QS. 25 : 74)
…….amiin ya rabbal ‘aalamiin……..

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hatur tengkyu atas kunjungan silaturahimnya.
Orang keren pasti koment ˆ⌣ˆ