Jumat, Juni 24, 2011

Resign Kerja

Bismillahirrohmaanirrohiim...


Minggu ini saya membuat salah satu titik balik di aktifitas kehidupan saya. Saya memutuskan resign kerja. Bagi saya ini adalah pilihan yang berani. Keluar dari zona —yang kata orang— nyaman. Apalagi saya keluar tidak untuk pindah kerja di tempat yang baru. Saya keluar begitu saja, berhenti, memberi titik di akhir kisah di pekerjaan yang dua tahun lebih saya tekuni itu. Alasan untuk resign tentu bermacam-macam. Sejak beberapa bulan belakangan keinginan untuk resign tinggi sekali. Sudah terlalu banyak hal-hal yang membuat saya tidak nyaman. Saya terganggu. Ini belum ditambah alasan remeh-temeh yang kadang timbul tenggelam bergantung dengan situasi. Selain itu, bekerja di sana membuat saya terlalu dalam tenggelam di dunia maya. Saya juga punya dunia nyata yang perlu lebih banyak lagi saya baca pelajarannya dalam mendewasakan saya. Saya butuh memperbanyak kawan dengan bermacam karakter yang bisa saling mengisi dan membantu secara langsung.

...Kesempatan
selalu datang
kepada
orang yang
berbakat...
Apakah saya menyesal kehilangan pekerjaan? Tidak! Keputusan ini adalah yang saya inginkan sejak lama. Saya sudah cukup bersabar dengan segala ketidaknyamanan di sana. Saya butuh suasana yang baru yang saya harapkan bisa mendukung saya. Ada banyak harapan dan kemungkinan yang menunggu untuk  saya raih. Kesempatan selalu mendekat pada orang berbakat. Jadi saya tidak perlu merasa takut, kesempatan bisa datang dari mana saja. Semua orang juga sedang berusaha. Sedang menguat-nguatkan diri dengan kesabaran. Menguat-nguatkan diri dengan prasangka baik. Sambil merefresh jiwa dengan hal-hal lain, sambil terus fokus pada target masing-masing, pada deadline masing-masing.

Sampai hari ini, bos beberapa kali memohon saya mengurungkan niat. Dia meminta saya untuk mau mengerti pada masalah-masalahnya dan mendukungnya. Kenyataannya di dunia ini semua orang akan berfikir masalahnya sendiri adalah yang terberat dan menyepelekan masalah orang lain. Pun begitu tidak akan ada yang mau bertukar masalah. Kita punya masalah masing-masing.


Dan setelah hari ini, saya merasa seperti berada pada area jeda. Berhenti sejenak, menyusun strategi, mengambil nafas. Jeda akan memberi saya waktu untuk memulai topik di awal paragraf baru kehidupan saya. Seperti spasi, ia memberi ruang untuk menghimpun energi, bersiap untuk menyusun cerita kembali. Tujuan telah saya genggam, dan kata pertama dia awal paragraf itu sudah saya temukan, ia tinggal menunggu untuk segera disematkan.

Sahabat saya bilang, "mencari rizki dimanapun sama saja, asal berkah." Ah, benar-benar membesarkan hati. Saya mengamini kata-katanya, saya anggap sebagai doa.

Efek dari resign ini kan menjadikan saya hiatus beberapa lama dari dunia maya. Dari blog dan akun-akun jejaring sosial. Saya tak akan lupa banyak hal baik yang  saya dapat. Beberapa kawan berbaik hati mengajarkan saya ilmu lain di luar pekerjaan. Ada yang mengajarkan saya menjadi enterpreneur, ada yang mengajari saya design, ada yang mengenalkan saya pada editing coding yang ternyata sangat menarik, ada yang menstimulus untuk membuat karya tulis, bahkan ada yang mengajari saya membuat aneka craft dan keterampilan tangan. Bagaimana saya tidak bersyukur berada di tempat semenarik ini. Saya sangat bersyukur. Saya pasti akan merindukan kalian sahabat-sahabat maya ...

...bekerja itu
untuk kesejahteraan
diri dan
ketentraman
batin...
Saya juga tidak lantas melupakan suasana kekeluargaan yang akrab, perasaan senasib, toleransi dan saling menghargai di rumah bibi ini. Saya sangat mengingat betapa saya merasa sangat diterima, dengan segala kekurangan dan keterbatasan. Mereka tak mempermasalahkan saya yang sensitif, pendiam tak jelas, saya yang kadang menyebalkan, ceroboh, dan pelupa. Hidup dengan keluarga mereka terkadang unik : hal serius jadi olok-olokan, hal menyedihkan jadi bercandaan, tragedi jadi komedi, polemik disikapi dengan baik. Berbeda menjadi hal biasa. Walau terkadang pula saya justru membenci situasi seperti itu yang menjadikan mood saya berubah-ubah.

Dari tulisan ngalor-ngidul sepanjang ini sepertinya masih ada yang bertanya-tanya. Sebenarnya apa alasan terbesar saya keluar dari pekerjaan yang tidak berat, sudah enak, nyaman? Saya tukaskan, bekerja itu untuk kesejahteraan diri dan ketentraman batin. Kalau tidak, buat apa? 
Hari terakhir di DPS Palasari
Bandung, pada hitungan ketiga 

5 komentar:

  1. Tuhan pasti menunjukkan kebesaran dan kuasaNya pada hamba yang sabar dan tek kenal putus asa.

    semoga keputusan itu menjadi awal untuk mendapatkan kesejahteraan dan ketenangan yang lebih baiak serta salalu mendapat RidhaNya. Amin

    BalasHapus
  2. Insya Allah akan mendapat tempat yang lebih baik.

    BalasHapus
  3. Semoga saya juga diberikan kekuatan dan ketetapan yang sama dengan Mba

    BalasHapus
  4. Bagi manusia yang ingin menorehkan manfaat bagi sesama, ia bekerja bukan saja untuk kesejahteraan dirinya, melainkan untuk kesejahteraan orang lain.

    khoirukum 3x anfauhum linnas

    BalasHapus

Hatur tengkyu atas kunjungan silaturahimnya.
Orang keren pasti koment ˆ⌣ˆ