Selasa, Juni 14, 2011

Merekam Nama

Bismillahirrohmaanirrohiim...


Mungkin sudah musimnya gelisah. Itu yang saya rasa. Saya hanya ingin marah entah kepada siapa. Hanya ingin menangis entah untuk alasan apa. Terdengar klise pastinya apabila saya mempertanyakan kemudian seperti tidak tahu jawabannya dengan pasti.

Di luar udara tak tentu. Kadang hujan teramat deras, gerimis rintik, hujan lagi, lalu panas yang teramat, gerimis, dan panas menyengat lagi, begitu seterusnya. Seperti hatiku. Kadang bara kadang hujan tangis lirih. Yang tidak mengenakkan, sesiapa di sekitar saya menjadi korban emosi yang tidak baik ini. Sedari pagi, bos sudah kena omelan saya berkali-kali. Berkali-kali dia bertanya sesuatu tapi saya balas dengan ketus, hingga ia bertukas pelan, "ngga usah sambil marah gitu dong". Saya terkesiap. Saya sudah menjadikan orang-orang di sekitar saya sebagai pelampiasan emosi. Saya memang masih menyapa Mamah, Bapak, Aa', Bos, Bibi, dan si bungsu. Tapi tetap terasa tidak sama. Saya lebih menyingkir dari hadapan mereka terus-menerus karena merasa sekeliling saya masih diselimutkan rasa sebal tidak jelas. Satu-satunya orang yang saya nyaman mencerita segala belakangan ini saya anggap turut serta seperti keluarga saya. Hanya karena dia terus mencekoki saya dengan kajian ikhlas dan berpasrah. Dalam kemarahan saya, semalam saya bertanya padanya dalam isak, apakah dia tidak pernah mencoba membayangkan berada di posisi seperti saya? Apa yang akan dia lakukan bila saudara perempuannya yang berada di posisi saya? Tidakkah dia bela? Dan obrolan kami ditutup dengan dada sesak.

 Pagi tadi cerah. Tapi saya berbenah diri kesiangan karena sedari subuh masih saja meneruskan tangis semalam. Hidup saya terasa hambar tidak ada warna apalagi rasa. Semakin hambar sejak merasa dia jauh semakin tidak ada sejak merasa nasihatnya belakangan tidak sejalan dengan harapan saya.

Hingga keberangkatan saya ke tempat kerja, seorang kawan menagih TB harian sebuah grup kontak Tausiah Berantai. Saya jawab, "bagaimana saya bisa menasehati orang lain kalau saya justru sedang dalam keadaan lebih butuh dinasihati?"

Meja kerja yang lengang. Beberapa handphone dan blackberry berserakan seperti rongsokan. Suara kipas angin kecil samping CPU mendesau di dekat telinga. Buku Muhammad 2 : Para Pengeja Hujan yang belum habis kubaca entah kenapa hari ini saya bawa, menyelinap pembatas lembaran papyrus hadiah seorang kawan baru dari Mesir. Tersingkap di halaman tersebut sebuah kalimat berbahasa Persia. Kalimat yang diucapkan Putri Turandokht pada Astu di sepotong sore dalam pelariannya. Saya benar-benar tertawan. "Ta shaqayeq hast, zendeqi basyad kard." Tersenyum, hati saya membisik. Biar saya lafalkan dalam hati agar lama terpatri. "Selama bunga shaqayeq masih mekar, hidup harus terus berjalan." Masih panjang bagian hidup saya yang harus dijalani.

Tiba-tiba dijeda dengan suara pelan dari hape sepuh bertanda pesan masuk. Buru-buru kumasukkan kembali buku tebal tersebut ke dalam tas. Saya tersenyum lagi. 

"Sesungguhnya Tuhan tidak mengubah nasib suatu kaum, hingga kaum itu mengubah nasibnya sendiri" Tetap semangat.
short message from Rei. 14/06/2011 - 08:16AM

Heyy, ternyata orang yang saya anggap jauh ada di sini. Sangat dekat dengan pikiran saya. Dia tidak menjauh seperti yang saya duga dengan kegundahan saya semalam. Dia tetap mendukung saya. Menyemangati saya untuk yakin berjuang. Biarlah Allah yang menentukan akhir dari skenario ini. Bagaimana bisa saya meratap-ratap seperti ini padahal finish belum pasti. Dia mengingatkannya lagi pagi ini.

Dia yang memiliki nama pena sekeranjang. Biarkan saya rekam nama yang ini. Yang inisialnya menjadi serupa sama dengan milikku. Karena jikapun semesta tidak mengijinkan ia mengenal saya lebih lama, saya ingin tetap ingat. Bahwa pernah semasa dalam hidup saya, menerima penghargaan paling tinggi atas arti diri saya untuknya. Yang sebelumnya, tak pernah saya bayangkan bisa mengenalnya di media tidak biasa begini.

Ketika saya menjadi tua dan pikun, ketika semuanya sudah tak berguna lagi, saya ingin membaca salah satu tulisan blog di sini bertuliskan nama dan inisial ini, lalu tersenyum dan bersyukur. Bahwa di dalam otak saya yang bingung, tersesat oleh riuhnya ingatan, saya tahu, betapa beruntungnya saya; pernah dianugerahi sebungkah cinta yang lembut, tak lekang waktu, tak tergerus luka. Cinta yang merunduk bertahan kala permainan keluarga saya menghantam, melindungi saya, lalu melanjutkan hidup tanpa meminta lebih banyak. Cinta yang kudapat hanya darinya.

Hingga ketika hati saya masih diombang-ambing ketidakjelasan skenario orang tua, saya hanya ingin terapkan kaidah penyair sufistik legendaris ; Rumi. "Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka, maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan"

Sudah sore, saya harus bergegas membereskan pekerjaan sebelum ditinggal..

Kuangankan: jendela yang terbuka perlahan, memperlihatkan lanskap mega senja dengan awan saga dimandikan mentari terbenam. Aku tak mengucap janji apa pun selain ingin setia pada persangkaan baik...

 . . .
14 Juni 2011M - 03:45PM
: untuk sebuah nama pena

4 komentar:

  1. lama tak berkunjung ke lauzuardi hati, Aih...! tiap kali berkunjung, "Ro-Nerroeh" mulu nich blog..:)

    BalasHapus
  2. Terro ke napanah?? lawong polos begindang doang kok

    :D :D

    BalasHapus
  3. mantap..... keren ui tulisan2annya.....

    BalasHapus

Hatur tengkyu atas kunjungan silaturahimnya.
Orang keren pasti koment ˆ⌣ˆ